Anak-anak Lelaki Negara Barat Mengalami Penurunan Prestasi - Koq Bisa? - FERI SULIANTA'S NEWS REPORT

FERI SULIANTA'S NEWS REPORT

Feri Sulianta's News Relay Berita terkini seputar edukasi hiburan gaya hidup teknologi kesehatan hobi sosial manzone

test banner

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Senin, 08 Januari 2018

Anak-anak Lelaki Negara Barat Mengalami Penurunan Prestasi - Koq Bisa?

[Feri Sulianta] Salah satu lansiran portal berita yang berjudul ‘Studi menemukan bahwa mengeliminasi pembiasan dari guru feminis akan juga mengeliminasi siswa laki-laki dari keterpurukan peringkat di sekolah’(judul asli: Eliminating feminist teacher bias erases boys' falling grades, study finds) mengambarkan secara deskriptif kondisi  tersebut dan alasan dibaliknya.
 
Ilustrasi Anak lelaki putus sekola menjadi tren di negara barat - sumber: https://www.greatschools.org/gk/wp-content/uploads/2012/07/High-school-dropout-resized-750x325.jpg
 Lansiran ini diawali dengan pertanyaan: “Apakah revolusi seksual, dan juga ideologi feminis mengakibatkan tersingkirnya para laki-laki dari perguruan tinggi dan merusak anak laki-laki sedini mungkin di sekolah dan di taman kanak-kanak?” Beberapa penulis mulai menghubungkan hal-hal utama yang menjadi standar tetapi mengalami pergeseran dalam praktek-praktek pendidikan melalui ‘penentuan peringkat‘ berdasarkan fakta guna mengevaluasi problematika yang terjadi, hal-hal utama yang dimaksud yakni: ‘keterampilan emosional, ‘non-kognitif’ dan penurunan kinerja anak laki-laki di sekolah.
Diceritakan pada lansiran bahwa pada tahun 1970-an, kritikus feminis kerap kali  mengeluhkan  bahwa sistem sekolah mengunggulkan cara ‘berpikir laki-laki’.  Dikatakan bahwa pendidikan saat itu dilihat sebagai hal yang ‘terlalu maskulin’ untuk anak perempuan. Feminis melakukan intervensi, membuat langkah besar di seluruh negara Barat, dan melakukan pelatihan bagi guru-guru yang akhirnya mengubah kondisi tersebut.
Bahwa sebagian besar pembuat kebijakan dan akademisi menerima metode tersebut yang mana,  gaya mengajar yang dikatakan adil bagi anak perempuan justru menghasilkan penurunan kinerja pada anak laki-laki.
Sebuah proyek penelitian lima tahun, yang didanai oleh Departemen Pendidikan dan Keadilan di Irlandia Utara, yang baru saja dirilis yang menemukan ‘kelemahan sistemik’ dalam cara siswa dievaluasi yang kemudian berimbas dengan dirugikannya anak laki-laki.
Belfast Telegraph mengutip seorang murid yang mengatakan kepada para peneliti, "Guru harus memahami lebih baik cara berpikir dan cara bertindak anak laki-laki, nyatanya para guru tidak mengamati hal demikian, mereka seharusnya mampu  membedakan karakteristik anak laki-laki terhadap anak perempuan dalam belajar. "
Penelitian dari tahun 2006 mengungkapkan terjadinya penurunan kinerja akademik laki-laki selama periode yang sama dengan munculnya ideologi feminis yang mendominasi  banyak kebijakan dalam masyarakat  dan secara spesifik juga dalam dunia akademis.
Rasio laki-laki berbanding perempuan yang lulus dari sebuah perguruan tinggi  mengalami penurunan terus menerus sejak tahun 1980, dan terus menurun sampai dengan tahun 2003, dimana didapati 135 perempuan untuk setiap 100 laki-laki yang lulus dari sebuah perguruan tinggi dalam jangka waktu  empat tahun masa studi.
 Lansiran ini pun membuktikan kebenaran pernyataan Profesor Christopher Cornwell dari University of Georgia bahwa paradigma pendidikan masa kini sangatlah ‘feminis’ yang hanya menguntungkan anak perempuan dan merugikan anak laki-laki, ini dialamati bahkan sejak awal anak-anak menduduki bangku sekolah.
Temuan sang profesor memperlihatkan bahwa cara guru (yang secara statistik sebagian besar perempuan), mengevaluasi siswa tanpa mengacu pada nilai tes objektif. Anak laki-laki secara ‘konsisten’  dinilai berada jauh di bawah prestasi akademik mereka yang sebenarnya, meskipun anak laki-laki memiliki peringkat yang kurang lebih sama pada tes matematika, dan secara signifikan lebih baik pada tes ilmu pengetahuan.
Christina Hoff Sommers, penulis buku ‘Perang terhadap Anak Laki-laki: Bagaimana feminisme merusak para remaja pria’ (Judul asli: The War Against Boys: How Misguided Feminism Is Harming Our Young Men), menulis bahwa ‘gagasan bahwa sekolah dan masyarakat  telah membuat perempuan tertindas’ telah menciptakan berbagai undang-undang dan kebijakan yang memangkas keuntungan bagi  anak laki-laki dan membuat upaya memperbaiki kondisi keterpurukan anak perempuan.  Christina pun menambahkan bahwa gagasan tersebut salah dan tidak relevan.
Ini terbukti pada temuan di SMA Scarsdale, New York yang memperlihatkan bahwa tidak adanya bukti yang memperlihatkan nilai keterpurukan anak-anak perempuan.
Temuan lain memperlihatkan bahwa akademis feminis, Gilligan Carol pelopor studi perihal gender, mencetuskan ide demikian dalam risetnya yang minim referensi, tidak adanya data yang dapat dikaji ulang, bahkan risetnya hanya mengacu pada anekdot semata dengan minimnya orang-orang yang digunakan sebagai narasumber, lebih lanjut lagi dikatakan bahwa sang akademis feminis tidak pernah mempublikasikan data yang digunakan untuk mendukung tesisnya, Christina menuding bahwa Gilligan Carol dan rekan-rekannya sebagai politisi  berjubah ilmu pengetahuan.
Namun demikian, gagasan bahwa anak-anak perempuan yang tertinggal dari pada anak laki-laki terus menjadi topik diskusi di hampir setiap tingkat kebijakan publik untuk ranah edukasi, kondisi ini bukan terjadi di Amerika Serikat semata. Jangkauan global feminisme sayap kiri Amerika telah menyebabkan perubahan yang sama, dan hasil yang sama, di hampir setiap negara Barat.
Gagasan-gagasan  tersebut terus menggerus peluang kaum remaja pria, dukungan justru terus mengalir pada para remaja perempuan, hasilnya keterpurukan dan kegagalan para remaja pria dalam pendidikan.

Post Top Ad

Responsive Ads Here